Centrum Blog

June 25, 2008

Apa yang mereka inginkan?

Filed under: Blog — Admin @ 6:15 pm
Saya kira tidak akan terjadi lagi kerusuhan - kerusuhan seperti pada akhir tahun 1990-an ternyata perkiraan saya salah. Masyarakat kita, terutama beberapa kalangan yang semestinya terpelajar karena berpendidikan tinggi, ternyata masih suka memilih jalan kekerasan untuk mencari perhatian luas.

Seperti biasa, kerusuhan berawal dari aksi demonstrasi para mahasiswa, dan mungkin beberapa elemen masyarakat, untuk bersama - sama menentang keputusan Pemerintah menaikkan harga BBM serta mendesak untuk mengusut dengan tuntas kasus kematian seorang mahasiswa Universitas Nasional Jakarta.

Setelah mereka mencapai tujuan akhirnya, yaitu gedung MPR/DPR, ritual berikutnya adalah melakukan orasi menentang keputusan menaikkan harga BBM. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan buruk segelintir orang yang, mungkin mabuk atau mungkin saja stress terkena terik matahari, orasi lalu menggumpal dan menggelinding (snowball effect) menjadi sebuah aksi negatif. Awalnya memanjat pagar lalu mengikat beberapa atribut tertentu dan berteriak - teriak entah kepada siapa lalu aksi tersebut berkembang menjadi usaha untuk merobohkan pagar, yang konon berharga 1 Milyar Rupiah, tersebut.

Dapat saya tebak setelah usaha merobohkan pagar gagal maka akan terjadi aksi pembakaran ban atau benda lain. Setelah pembakaran ban terjadi pasti akan ada aksi perusakan yang mengakibatkan kerugian baik bagi warga sekitar ataupun bagi para pengguna fasilitas publik. Semua hal tersebut ternyata terjadi dan seperti yang tercantum dalam beberapa harian terkemuka kerusuhan 24 Juni 2008 merupakan kerusuhan yang cukup memalukan dan memilukan.

Kali ini saya harus memihak kepada Pemerintah. Saya cuma seorang warga negara biasa yang juga terkena dampak atas kenaikan harga BBM tetapi setelah melihat aksi beberapa kalangan terpelajar tersebut saya menjadi malu atas tindakan - tindak mereka.

BBM (Bahan Bakar Minyak) sepertinya sudah menjadi satu ukuran keberhasilan sebuah pemerintahan di Negara ini. Jika BBM naik maka Presiden beserta perangkatnya harus mundur karena dianggap oleh segelintir orang tersebut bekerja tidak becus dan menelantarkan masyarakat Indonesia (selalu mengatasnamakan). Mengapa tidak melihat dengan adil dan bijaksana saja? benarkah pemerintahan sekarang tidak berprestasi sama sekali? bagaimanakah dengan beberapa skandal - skandal penyuapan, pembongkaran kasus penyelundupan, hingga terkuaknya kasus penebangan liar yang melibatkan beberapa pejabat yang kurang ajar?.

Sah - sah saja mahasiswa mengatasnamakan masyarakat Indonesia seutuhnya untuk memperjuangkan hak hidup layak dan sebagainya tetapi apakah harus selalu menimbulkan kerusuhan?. Saya pernah menjadi mahasiswa, saya pernah mencoba mengikuti beberapa aksi demonstrasi tetapi yang saya dapatkan tidak ada. Saya harus jujur bahwa mengikuti aksi demonstrasi hanya membuang - buang waktu, tenaga dan pikiran. Yang paling buruk adalah kita lupa bahwa tugas utama kita adalah belajar!.

Saya pernah dianggap sebagai orang yang tidak memiliki hati nurani dan rasa nasionalisme yang baik karena saya menolak untuk mengikuti suatu aksi demonstrasi di kampus saya dulu. Saya hanya berpikir bahwa, siapakah mereka berhak menghakimi atau menilai seberapa baik saya sebagai manusia? tanggung jawab saya sebagai orang baik hanya kepada orang tua saya dan tuhan saya. Apa manfaatnya jika mengikuti aksi demonstrasi yang ternyata hasilnya hanya suara habis, sakit tenggorokan, kulit menghitam, badan pegal linu dan mungkin saja lebam terkena pukulan aparat keamanan?.

Apakah mereka para demonstran tersebut adalah mahluk paling egois? iya. Mengapa?. Setiap aksi demonstrasi yang berakhir ricuh menyebabkan para peserta aksi adalah mahluk paling egois. Kerusuhan menyebabkan rusaknya fasilitas umum yang dibangun dari pajak atau uang rakyat. Kerusakan fasilitas umum menyebabkan para pengguna fasilitas umum terganggu sehingga hak mereka sebagai warga negara diciderai atas akibat dari kerusuhan tersebut.

Terganggunya lalu lintas juga menyebabkan kerugian atas hak - hak pengguna jalan. Pernahkah para demonstran tersebut membayangkan, jika saja ada satu kendaraan pribadi yang berisi orang tua mereka atau keluarga mereka dalam keadaan kritis dan harus menuju ke Rumah Sakit terhambat bahkan tidak dapat mencapai tujuan lalu meninggal di dalam kendaraan?. Egois bukan? mereka hanya ingin melampiaskan kemarahan dengan membakar kendaraan, merusak fasilitas umum, memblokir jalan tol dan yang paling parah adalah mereka mengatasnamakan rakyat. Rakyat mana?.

Ada pertanyaan lain, apakah mereka itu berpikir bahwa sebenarnya aksi penolakan mereka itu juga membantu para pengusaha kaya agar ikut menikmati rendahnya harga BBM?. Bagi para kalangan konglomerat mereka tidak ambil pusing mengenai kenaikan BBM tetapi dengan adanya aksi seperti ini, saya bisa membayangkan para konglomerat berteriak - teriak di hadapan televisi, “Ayo bakar..bakar! biar BBM ga naik! ayo!” sambil bertepuk tangan dan kalian para demonstran malah justru babak belur!.

Hanya orang - orang bodoh yang melakukan aksi mengatasnamakan rakyat tetapi malah justru menyengsarakan rakyat karena tindakan anarkis mereka. Sifat agresif sudah menjadi sifat masyarakat Jakarta (bukan Indonesia), fenomena atau motto kebanggaan , yaitu masyarakat Indonesia ramah hanya berlaku di beberapa tempat saja tetapi pasti bukan di DKI Jakarta.

Mahasiswa menginginkan keadilan tetapi mereka bertindak tidak adil bagi warga lain. Mereka menuntut penurunan BBM tetapi ke Senayan berbekal dengan modal pikiran yang dangkal. Mahasiswa semestinya lebih baik dan lebih mulia dari hanya sekedar mengurusi BBM. Kenapa tidak menyuarakan, memperjuangkan nasib guru - guru di pedalaman yang honornya saja tidak cukup untuk membeli voucher pulsa telepon genggam??. Mengapa mereka tidak memperjuangkan untuk menurunkan atau bahkan menghilangkan biaya pendidikan yang sudah semakin mahal ini? apakah bagi mereka BBM lebih penting daripada pendidikan?.

Banyak yang lebih penting daripada BBM! otak para mahasiswa itu sayang jika hanya dipergunakan untuk memikirkan hal - hal yang umum saja, berpikirlah yang lebih analitis!. Menghabiskan uang jutaan mengapa harus babak belur? kuliah menghabiskan uang jutaan dan lebih baik pergunakan kesempatan tersebut untuk belajar! masih banyak anak - anak yang tidak sanggup sekolah menginginkan untuk belajar!.

Apa yang ada di kepala mereka… Apa yang mereka inginkan…

(foto : harian KOMPAS)

Powered by WordPress
Recommended sites: Best Web Hosting and Domain Name Registration. Created with Website Builder Software